Sebelumnya saya mengucapkan Minal Aidzin Wal Faidizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin. :D
Akhirnya tahun ini saya ikut mudik ke Jawa (Madiun dan Pekalongan) setelah tahun kemarin saya nggak ikut mudik sama sekali. Lebaran tahun ini agak sepi, soalnya ada beberapa sodara yang nggak pulang kampung. Sedih juga sih, tapi itukan pilihan mereka, pasti ada alesan kuat yang mengharuskan mereka untuk stay dikotanya masing-masing. Jujur, saya nggak dapet esensi utama dari ‘Menuju Ke Udik’ ini, maksudnya gini kita hidup di kota besar dengan segala pernak-perniknya, dengan beban hidup yang berat, dengan perasaan 24 jam nggak cukup untuk sehari, dengan kecemburuan sosial yang beredar dimana-mana. Dengan melakukan mudik, diharapkan semua permasalahan ini bisa sedikit dilupakan atau dengan kata lain memperlambat ritme kita dalam menjalani hidup. Akan tetapi, kenyataannya dengan melakukan mudik menimbulkan masalah baru seperti kita semua berusaha sampai ke kota tujuan dengan menguras tenaga, biaya, dan emosi. Belum lagi bagi mereka yang melewatkan sholat ied hanya karena terjebak macet dijalanan. Terus juga, ada individu yang menyalahi arti lebaran dengan pamer kekayaan (huft.. paling males nih yang gini). Sampai di kota tujuan pun belum selesai urusannya, karena harus memikirkan untuk pulangnya nanti. Tapii.. pasti ada sisi yang menyenangkan pada mudik ini, karena disetiap fenomena pasti ada positif dan negatifnya, mungkin salah satu contohnya adalah dapet THR dari sodara-sodara?! :)







